Oleh: btqsman1grati39 | April 14, 2015

PACARAN ISLAMI, adakah ?

    Cinta itu tidak buta karena tidak bermata dan tidak tuli karena tidak bertelinga. Cinta itu pasif dan akan aktif bergantung cara manusia mengaktifkannya. Jika cinta hinggap di mata manusia yang tidak beriman, akan merubah mata itu menjadi mata keranjang. Jika cinta hinggap di hati manusia yang bersahabat dengan setan, maka cinta akan menjelma menjadi birahi. Karenanya, tak sedikit manusia menjadi budak nafsu dan menjadi korban cinta. Cinta yang hinggap terhadap manusia durjana akan merubah cinta menjadi media zina. Akibatnya segala yang dilakukan atas nama cinta menjadi bentuk zina yang terang-terangan. Hati berzina, mata berzina, telinga berzina, tangan berzina, dan seluruh anggota badan lainnya berzina termasuk kemaluannya yang merupakan zina paling besar dosanya. Pada masa modern ini, cinta berarti zina ini telah membudaya sehingga menjadi malapetaka yang mengancam eksistensi manusia sebagai makhluk beradab. Rasulullah SAW bersabda : “ Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Ia berkata : Nabi SAW bersabda : Allah SWT. Telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, dimana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya hingga kemaluannya ikut memastikan perzinahan itu “ (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad) Menurut kamus Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002:807),

     Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih . Berpacaran adalah bercintaan; berkasih-kasihan. Memacari adalah mengencani; menjadikan dia sebagai pacar. Kata Pacar sendiri berasal dari nama jenis tanaman hias cepat layu dan mudah disemaikan kembali. Tanaman ini tidak bernilai ekonomis, sehingga tidak diperjualbelikan. Hal ini sebagai simbol bahwa pacaran adalah perilaku yang tidak bernilai. Aggapan bahwa pacaran sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan ,mencari titik temu antara dua manusia jelas bukanlah anggapan yang sepenuhnya benar. Karena penjajakan itu kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan, sebab setiap pasangan akan selalu menampilkan sisi-sisi terbaik masing-masing, sebaliknya ia akan jadi ajang “penipuan”. Justru bukan saling mengenal tetapi upaya untuk melampiaskan nafsu birahi. Seseorang yang menemui pacarnya umumnya bukan untuk menyelidiki latar belakang pacarnya melainkan ingin melihat ke”cakepan” wajahnya dan kegagahan atau kemolekan tubuhnya.

     Argumentasi bahwa pacaran sebagai penyemangat belajar juga terbantahkan. Sudah berapa banyak siswa-siswi yang turun prestasi dan bahkan gagal dalam study-nya akibat terlalu larut dan “stress” memikirkan hubungan dengan pacar mereka ? Dalih dengan pacaran akan mendapatkan kebahagiaan hidup juga nyata-nyata bertolak balakang dengan faktanya, karena setiap pasangan remaja yang berpacaran akan memiliki sikap possesive yang tinggi bahkan sangat mungkin berlebihan, yang akan memunculkan sikap cemburu, galau akibat over protective. Apakah ini yang dimaksud dengan ketenangan hati dan kebahagiaan hidup? Apakah pacaran itu cinta? Melihat kecenderungan pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak bisa ditentukan dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu atau saling menelpon, SMS, Chatting dan diteruskan dengan janji bertemu langsung. Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang.Tidak ada ikatan tanggung jawab antara mereka. Padahal cinta itu memiliki tanggung jawab, ikatatan sah dan sebuah harga kesetiaan. Jelas sekali bahwa pacaran itu berbeda dengan cinta.

    Jadi apakah pacaran itu? Sebagaimana yang telah disebutkan berdasarkan kamus di depan memacari berarti mengencani, sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama. Dalam prakateknya, ada transfer birahi antara kedua pasangan yang dilanda asmara. Apalagi di tempat sepi, mereka akan semakin mudah melakukan hal-hal yang melanggar syariat. Berdua di tempat sepi menunjukkan sikap yang tidak bertanggung jawab karena keduanya sengaja menjerumuskan diri pada jurang, kehancuran. Apalagi setan sebagi pihak ketiga, akan terus memanas-manasi kedua insan yang dilanda asmara itu agar menuju pemuasan yang sesungguhnya yaitu zina. Adakah pacaran islami ? Dari deskripsi diatas jelaslah, pacaran bukan dari Islam, melainkan budaya jahiliyah yang harus ditinggalkan oleh segenap remaja muslim. Karena itu mustahil ada pacaran dalam Islam atau mustahil ada pacaran yang islami. Seperti halnya mustahil ada judi yang islami, bangkai islami, kholwat islami, dan lain-lain. Yang haram tetap haram dan tidak bisa berubah hukumnya sekalipun dikaitkan dengan simbol-simbol islam. Tidak bisa dikatakan islami hanya karena saat berkunjung memakai baju koko, masuk rumah pacar mengucapkan salam, mau pegangan tangan membaca basmallah dan selesai zina cukup mengucapkan istighfar. Sungguh prilaku yang melecehkan Islam. Islam tidak mengenal istilah pacaran. Yang ada dalam Islam ada yang disebut “khitbah” . Khitbah adalah prolog menuju pernikahan, hukumnya sunah. Khitbah umumnya dilakukan laki-laki terhadap wanita, tetapi tidak ada larangan wanita terhadap laki-laki. Khitbah hakikatnya menentukan apakah dia bersedia dijadikan calon istri atau tidak . Namun sebelumnya harus ditanyakan terlebih dahulu apakah ia masih sendiri (belum ada yang mengkhitbah). Khitbah bukan aqad nikah, dan belum merubah status keduanya menjadi hubungan halal; selain tidak boleh dikhitbah orang lain. Maka, dalam proses khitbah tetap haram berdua-duaan tanpa ditemani mahram-nya.

     Mengapa pacaran itu haram ? Karena pacaran itu akan membawa kepada perzinahan. Dimana zina adalah termasuk dosa besar, dan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah. Oleh karena itu ayatnya berbunyi demikian ; “ Janganlah kamu sekali-kali mendekati perzinahan karena zina itu adalah perbuatan yang keji …” (QS Al-Isra’ : 32). Ayat tersebut tidak mengatakan jangan berzina karena biasanya orang yang berzina itu tidak langsung, tetapi melalui tahapan seperti : saling memandang, berkenalan, bercumbu, kemudian baru berbuat zina. Kalau ayat itu bunyinya misalnya “ Janganlah berbuat zina “ atau telah diharamkan zina maka berarti segala tindakan yang akan membawa kepada perbuatan zina seperti pegang-pegangan, cium-ciuman dll hukumnya halal. Wajarlah kita senang dengan lawan jenis karena itu fitrah tetapi bukan berarti tanpa kontrol. Cinta itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu pertama cinta yang syar’I dasarnya adalah iman. Kedua cinta yang dasanya tidak syar’I dasarnya adalah syahwat. Allah membenarkan cinta yang sifatnya syahwati, sebab itu adalah tabi’at manusia. Kecintaan inilah yang perlu dikendalikan Lalu bagaimana cara mengendalikannya? JAGALAH HATI. Ingat kisah Fatimah RA. Putri Rasulullah SAW. ? setelah menikah dengan Ali bin Abi Thalib RA. Fatimah mengaku pernah menyukai seorang laki-laki. Ketika ditanya Ali, siapa laki-laki itu, Fatimah menjawab lelaki itu sebenarnya Ali sendiri. Bisa ditarik kesimpulan, sebenarnya sudah ada bibit cinta pada diri Fatimah terhadap Ali, tetapi tidak lantas jadi kasmaran dan mengekspresikan cintanya dengan sesukanya. Beliau simpan rasa itu, menatanya dengan rapi dan mengekspresikan saat memang sudah halal untuk diekspresikan, yaitu saat telah menikah itulah kendalinya. Kalau belum siap menikah ? Resep rasulullah dalam Haditsnya yang masyhur adalah dengan Puasa, karena musuh utama dari syahwat adalah puasa.

     Adakah tips lain ? 1. Jaga pergaulan dan selalu jaga pandangan 2. Kalau menyukai lawan jenis, cukup sampai tahap simpati. 3. Perbanyak teman (yang sejenis lho) dan kegiatan yang positif, karena menyendiri dan diam berpotensi menimbulkan pikiran yang kotor. “Jika ingin hidupmu bahagia dan selamat di dunia maupun di akhirat jangan berpacaran……..” diresume dari : Abu Al-Ghifari, Pacaran yang Islami Adakah?, Bandung, Mujahid Press, 2003.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: